PADANG PANJANG – Siang itu, matahari bersinar cukup terik di halaman kampus Institut Seni Indonesia (ISI). Di depan salah satu sudut gedung UPA Perpustakaan, sebuah momen sederhana namun sarat makna terekam kamera. Dua orang pria tampak berdiri berhadapan dengan senyum sumringah yang mengembang tulus. Di antara tautan tangan mereka, mendekap erat sebuah buku bersampul merah maroon yang kontras.
Buku itu berjudul "Silent Leader", sebuah karya buah pemikiran dari Bapak Andrisol Syahlul. Kehadiran beliau hari itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah misi mulia: menghibahkan karya literatur berharga tersebut agar dapat diakses oleh seluruh civitas akademika ISI.
Sumbangan buku ini bukan hanya tentang menambah jumlah koleksi di rak-rak perpustakaan. Lebih dari itu, ini adalah tentang transfer pengetahuan dan penyebaran inspirasi mengenai kepemimpinan yang tenang namun berdampak besar—sebuah konsep yang sangat relevan bagi para calon seniman dan kreator masa depan yang sedang ditempa di ISI.
Dari Tangan ke Tangan, Dari Hati ke Generasi.
Momen serah terima yang berlangsung hangat ini mengisyaratkan sinergi yang kuat antara kepedulian individu terhadap dunia literasi dan institusi pendidikan. Dalam foto selfie yang diambil sesaat setelah penyerahan, terlihat jelas binar kepuasan dan kebahagiaan dari Bapak Andrisol serta perwakilan perpustakaan yang menerima.
Pihak UPA Perpustakaan ISI menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas sumbangan ini. Buku "Silent Leader" ini dipastikan akan segera memenuhi katalog digital dan siap dipinjam oleh para mahasiswa, dosen, maupun peneliti yang haus akan perspektif baru tentang leadership.
Melalui goresan pena Bapak Andrisol Syahlul, perpustakaan ISI kini memiliki satu lagi pemantik diskusi yang berharga. Sebuah langkah kecil dari penyerahan sebuah buku, yang diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bekerja dalam senyap, namun membawa perubahan nyata bagi bangsa dan dunia seni.
